Rabu, 20 Juli 2016

Bisnis Paling Liquid : Trading Online Valas

Bisnis yang paling liquid di dunia saat ini adalah perdagangan mata uang. Mengapa mata uang? Karena semua aktivitas bisnis pasti memerlukan uang untuk bertransaksi sehingga uang juga disebut sebagai alat tukar berbagai macam produk komoditi. Lalu bagaimana mata uang ini diperdagangkan di dunia saat ini? Masing-masing negara membutuhkan mata uang sebagai cadangan kekayaannya. Mata uang dipakai untuk membeli kebutuhan-kebutuhan Nasional yang dipakai untuk belanja kebutuhan Pokok Masyarakat dan Belanja Modal untuk membiayai program pembangunan. Selain sebagai alat tukar untuk membeli komoditi, uang juga diperdagangkan secara internasional di pasar Internasional. Setiap Negara memiliki nama mata uangnya masing-masing yang nilainya berbeda antar negara satu dengan yang lain. Misalnya di Indonesia dikenal dengan nama Rupiah begitu juga di Amerika dikenal dengan Dolar. Untuk memahami mengapa mata uang satu dengan yang lainnya berbeda nilai tukarnya bisa dibaca kembali Blog saya sebelumnya yang berjudul "Belajar memahami konversi kurs mata uang". Pasar uang yang dipedagangkan secara internasional itu disebut sebagai pasar valuta asing (valas). 

Pasar valuta asing telah berkembang secara revolusioner pada tahun-tahun belakangan ini, teknologi internet dan komunikasi menyediakan sarana baru bagi individu, institusi, dan negara saat bertransaksi di pasar valuta asing internasional. Teknologi juga telah memberikan kesempatan kepada individu-individu dengan kemampuan dana/modal terbatas untuk bisa menikmati manisnya pasar valuta asing. Keunggulan yang disediakan oleh pasar valuta asing, baik untuk berinvestasi maupun untuk berspekulasi adalah karena Likuiditasnya.

Likuiditas
Pasar valuta asing adalah pasar yang sangat likuid (cair). Likuiditas itulah yang menjadi daya tarik utama pasar valas (forex). Oleh karena sifatnya yang liquid, hasil transaksi dapat dengan segera diambil. Liquiditas juga menunjukkan transparansi pada pergerakan harga.

Pasar vluta asing sangat menarik bagi pemain-pemain besar dan transaksi pemain besar tersebut akan membawa dampak yang besar juga terhadap pasar valuta asing (membentuk trend). Sifat transparansi seperti itulah yang akan menguntungkan Anda karena anda dapat membonceng trend (trend beli dan trend jual) yang tercipta oleh transaksi pemain-pemain besar tersebut.

Jumat, 15 Juli 2016

Pokemon Go : Teknologi AR dan Realita Bisnis Masa Kini



Pokemon Go yang sedang marak baru-baru ini adalah game aplikasi berbasis teknologi AR. Apakah teknologi AR itu?  AR (augmented reality), adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata. Tidak seperti realitas maya yang sepenuhnya menggantikan kenyataan, realitas tertambah sekadar menambahkan atau melengkapi kenyataan.

Benda-benda maya menampilkan informasi yang tidak dapat diterima oleh pengguna dengan inderanya sendiri. Hal ini membuat realitas tertambah sesuai sebagai alat untuk membantu persepsi dan interaksi penggunanya dengan dunia nyata. Informasi yang ditampilkan oleh benda maya membantu pengguna melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam dunia nyata.

Realitas tertambah dapat diaplikasikan untuk semua indera, termasuk pendengaran, sentuhan, dan penciuman. Selain digunakan dalam bidang-bidang seperti kesehatan, militer, industri manufaktur, realitas tertambah juga telah diaplikasikan dalam perangkat-perangkat yang digunakan orang banyak, seperti pada telepon genggam.

Dengan meledak besar-besarannya Pokemon GO dalam waktu kurang dari seminggu ini, teknologi 'virtual reality' yang booming akhir tahun lalu, nampaknya akan mulai tenggelam. Sepertinya masyarakat lebih suka untuk pergi keluar dan terhubung ke dunia digital lewat kamera smartphone miliknya, ketimbang memakai headphone besar di wajahnya. Ini pertanda bahwa masa depan game adalah AR, bukan VR.

Permasalahan dalam VR adalah yang ditawarkan hanyalah modifikasi visual dari game tersebut. Kita memang bisa masuk dalam game dan menikmati keseluruhan visual yang sangat luas, namun hal ini tak jauh berbeda dari apa yang kita dapat sebelumnya di game konsol. Baik Gamepad serta sensor gerakan yang jadi bagian dari VR, kesemuanya hampir tak mengubah sesuatu yang sudah ada secara integral.

Di sisi lain, Augmented Reality atau AR, secara murni memberi pendekatan untuk bagaimana seseorang bisa berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Pokemon GO sendiri 'menaiki' arus AR yang sudah tercipta serta memanfaatkan kekuatan karakter Pokemon yang sudah dikenal masyarakat sejak belasan tahun silam.
Hasilnya? Kesuksesan besar-besaran. Bahkan Nintendo meraup keuntungan besar, dengan nilai market yang bertambah sebesar USD 7,5 Juta.

Meski banyak dampak dan isu yang terjadi di aspek teknis maupun fungsionalnya, teknologi Augmented Reality dalam ranah game tentu adalah aspek yang sangat menjanjikan.

Hal ini akan mempengaruhi banyak aspek di dunia teknologi. generasi selanjutnya dari smartphone akan lebih kompatibel dengan AR, bahkan akan membuat sebuah aksesoris berupa perangkat 'wearable' AR, khusus untuk berbagai aplikasi yang didukung oleh AR. Aplikasi non-game pun juga akan mempermudah hidup kita dengan dikembangkannya berbagai teknologi digital berbasis AR.


 
Saat ini patut diakui bahwa teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) masih digunakan untuk sekadar menonton video ataupun bermain game. Padahal teknologi tersebut dapat pula digunakan untuk mendukung pertumbuhan e-Commerce. teknologi VR dan AR dapat mengubah cara bertransaksi di masa depan. Teknologi AR dan VR memungkinkan konsumen seolah-olah menyentuh dan merasakan produk yang diinginkan tanpa perlu pergi langsung ke toko tersebut.

Penggunaan teknologi ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan transaksi melalui penjualan digital. Ini tidak terlepas dari pengalaman bertransaksi yang tak ubahnya dilakukan secara langsung, tapi tanpa kehadiran fisik. Teknologi ini mampu mereplikasi konsumen untuk seolah-olah berada di dalam toko. Jadi, konsumen masih dapat merasakan pengalaman berbelanja secara tradisional. Namun kendati pertumbuhan transaksi digital akan makin bertumbuh dengan kehadiran teknologi VR atau AR, bisnis online tidak akan mampu menggantikan transaksi tradisional. Transaksi tradisional tidak tergantikan, tapi pada tahun 2020 konsumen di Asia akan makin banyak yang melakukan pembelian secara online untuk memenuhi kebutuhannya,

Sekadar informasi, teknologi VR dan AR memang digadang-gadang sebagai teknologi konsumen untuk masa depan. Karena itu, saat ini telah banyak perusahaan teknologi yang mulai mengembangkan kedua teknologi tersebut dan mengikutsertakannya dalam rencana jangka panjang.

Beberapa perusahaan yang sudah mulai mengembangkan perangkat VR ataupun AR adalah Facebook dengan Oculus Rift, Microsoft dengan HoloLens, HTC dengan Vive, dan Samsung dengan Samsung Gear VR. Bahkan, beberapa perusahaan seperti Apple dan Google pun sudah mulai memiliki divisi khusus untuk VR.

Kamis, 14 Juli 2016

Berbisnis Harus Liquid

Tahukah Anda, perdagangan apa yang paling monumental saat ini? Jika anda ingin berbisnis maka yang perlu anda siapkan adalah barang yang akan anda perdagangkan. Hal yang harus diperhatikan adalah tingkat likuiditas barang yang diperdagangkan tersebut. Namun tidak semua barang yang diperdagangkan itu sama-sama liquid. Apa itu liquid? Liquid adalah sesuatu yang mudah dicairkan dengan cepat. Artinya perdagangan itu liquid jika mudah dijual maupun beli serta memiliki jumlah transaksi cukup besar.

Kita ambil contoh misalnya perusahaan yang bergerak dibidang ritel dan properti. Manakah yang lebih liquid? Jika penjual dan pembeli bertemu di pasar maka terjadilah transaksi jual beli, tetapi tidak semua barang yang kita jual belikan itu liquid. Semakin cepat barang itu terjual kekonsumen maka bisnis itu semakin liquid, namun jika barang itu lama terjual maka dapat dikatakan barang itu kurang liquid di pasaran. Seorang pengusaha ritel dia akan cepat memutar modalnya karena barang yang diperjual-belikan sangat dibutuhkan oleh konsumen. Namun pengusaha Properti membutuhkan waktu cukup lama untuk memperoleh calon pembeli yang ingin membeli rumah yang sudah dibuatkan oleh Developer properti.

Begitupun dengan bisnis yang bergerak dibidang investasi.. Ada berbagai instrumen investasi yang jumlahnya beranekaragam hingga saat ini diantaranya seperti instrumen investasi di pasar keuangan, properti dan pasar modal. Diantara pasar investasi itu manakah kia-kira yang paling liquid?

Investasi uang seperti tabungan misalnya lebih liquid daripada deposito karena lebih mudah ditarik sewaktu-waktu namun deposito yang pengambilannya berdasarkan jatuh tempo justru  lebih disukai para investor besar karena menawarkan suku bunga yang lebih tinggi daripada tabungan biasa. Namun jika tingkat suku bunga lebih rendah daripada tingkat inflasi di masyarakat justru membuat nilai mata uang itu menurun. Saya ambil contoh misalnya saya ingin membeli mobil tahun depan yang harganya 100 juta rupiah.. Ternyata setelah setahun ternyata harga mobil mengalami kenaikan atau inflasi mencapai 10 persen sehingga harga mobil saat itu menjadi senilai 110 juta. Waktu saya mendepositokan uangnya senilai 100 juta rupiah ternyata suku bunga bank hanya sekitar 7 persen.. Sehingga pada saat mengambil deposito tahun depan nilai uang plus bunganya hanya senilai 107 juta saja. Harga mobil yang sudah mencapai 110 juta ternyata lebih tinggi daipada nilai deposito uang yang senilai 107 juta rupiah. Inilah salah satu kerugian investasi di deposito bank.

Ada banyak investasi yang menawarkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi daripada deposito bank yaitu di sektor tanah dan properti. Tanah dan Properti sangat dibutuhkan oleh masyarakat karena dari tahun ke tahun jmlah penduduk semakin meningkat sehingga harga tanah dan properti akan semakin meningkat. Oleh karena itu banyak orang yang menyukai berbisnis di bidang properti karena nilai atau harganya yang semakin meningkat. Bahkan dari tahun ke tahun jumlah pengusaha properti semakin banyak sehingga persaingan justru semakin tajam. Kelemahannya adalah jika daya beli masyarakat menurun karena kodisi ekonomi tidak bagus maka penjualan di sektor properti justru semakin menurun. belum lagi persaingan properti semakin meningkat tajam.

Selain bisnis investasi di bidang properti anda juga bisa berinvestasi di pasar modal yang menyediakan berbagai macam jenis saham. Namun berinvestasi di bursa saham memiliki resiko yang cukup tinggi dibandingkan instumen investasi yang lain. Meskipun tingkat likuiditasnya lebih tinggi daripada properti dan bisa menghasilkan profit paling tinggi dibandingkan yang lainnya namun jika sewaktu-waktu terjadi gejolak di bursa saham akibat banyak perusahaan yang merugi maka investor akan mengalami kerugian besar.

Ada bisnis alternatif selain yang disediakan diatas? apakah bisnis terbaik saat ini yang ingin saya anjurkan buat anda semua? Saya akan melanjutkan di episode berikutnya....

#Salam Profit#




Rabu, 13 Juli 2016

Belajar Memahami Konversi Kurs Mata Uang Dunia



Apa yang terpikirkan ketika mendengar kalimat, “kurs mata uang dunia”? Sebagian orang mungkin berpikir soal negara-negara yang tersebar di 5 benua, dan banyak pula yang justru memikirkan soal angka-angka.

Sebagai bagian dari komunitas ekonomi dunia, kehidupan suatu negara tentu tidak bisa lepas dari yang namanya kurs valuta asing. Nilai tukar menjadi penting karena di era modern, ketergantungan antara negara satu dan negara lainnya sangat tinggi. Pergerakan harga di pasar uang juga dipantau oleh pelaku investasi, terutama mereka yang berkecimpung di dunia forex.
Pada prinsipnya, kurs adalah hasil konversi mata uang suatu negara dengan mata uang negara lainnya. Angkanya berubah setiap waktu, sesuai dengan dinamika yang terjadi di berbagai sektor di dua negara bersangkutan. Selain kondisi ekonomi, nilai tukar mata uang turut dipengaruhi oleh situasi politik. Semakin bagus suhu politik suatu negara maka semakin tinggi pula kepercayaan pelaku pasar finansial terhadap mata uang negara tersebut. Dalam beberapa kesempatan, berita politik justru jauh lebih berpengaruh terhadap kurs mata uang suatu negara ketimbang laporan ekonomi terbaru. Di tengah suasana pemilu misalnya, kurs mata uang kerap fluktuatif mengikuti headline terkini karena keyakinan pelaku ekonomi terhadap prospek pemerintahan suatu negara sedang diuji.

Pasar Modal
Dari dunia keuangan, komponen penggerak mata uang tidak lain adalah kinerja pasar modal suatu negara. Harga saham identik dengan kondisi perekonomian karena grafiknya mengacu pada perolehan laba suatu perusahaan publik. Level keuntungan usaha berbanding lurus dengan ekonomi makro karena laba yang besar hanya bisa diraih jika konsumen punya daya beli yang mumpuni. Harga saham di pasar modal mampu mencerminkan siklus ekonomi dari tingkat produsen ke konsumen. Tidak heran kalau nilai tukar mata ikut susut ketika harga-harga sahamnya melemah dan kuat saat pasar modalnya meroket.
Faktor yang lain yang tidak kalah penting adalah perdagangan internasional. Negara yang menerima permintaan produk barang dan jasa dalam jumlah besar, nilai tukarnya pasti lebih kuat dibandingkan negara konsumen. Komponen defisit dan surplus dalam neraca keuangan bisa memberi gambaran tentang daya saing suatu negara dalam perdagangan internasional, berdasarkan laju ekspor dan impornya. Oleh karena itulah kurs mata uang selalu berbanding lurus dengan hasil data neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan.

Pergerakan Nilai Mata Uang
Nilai tukar mata uang bergerak dari waktu ke waktu di luar kendali siapapun. Namun pelaku ekonomi dan investor sebaiknya bisa membaca kecenderungan arahnya dengan meng-update berita-berita ekonomi dan politik. Dengan menguasai faktor-faktor yang melingkupi pasar valuta, pihak-pihak yang berkepentingan dapat beradaptasi dengan perubahan dan mampu melindungi bisnisnya masing-masing dari risiko kerugian kurs. (Sumber : Dimas, monexnews.com)

Selasa, 12 Juli 2016

Mahzab Ekonomi Berbagi

Ketika para sopir taksi dan kendaraan umum memarkir kendaraan di berbagai sudut Jakarta Selasa (22/3) lalu, dan kemudian terlibat tindakan-tindakan anti-sosial dan destruktif, di media sosial ramai dibagi tulisan tentang sharing economy alias ekonomi berbagi. Dari lebih dari 20 WhatsApp Group yang saya ikuti, 12 di antaranya mencantumkan dan membahas tulisan karya Dr. Rhenald Kasali yang menjelaskan fenomena sewa kendaraan berbasiskan aplikasi dari sudut pandang ekonomi berbagi.

Namun, apa sesungguhnya ekonomi berbagi itu? Benita Matofska dari organisasi The People Who Share mengajukan definisi sebagai berikut: “The Sharing Economy is a socio-economic ecosystem built around the sharing of human and physical resources. It includes the shared creation, production, distribution, trade and consumption of goods and services by different people and organisations.” Ia kemudian memberikan 10 komponen penyusunnya.

Dari 10 komponen itu, hal yang menurut saya sangat penting adalah visi keberlanjutan, yang berarti bahwa ekonomi berbagi merupakan model ekonomi yang menimbang dengan cermat pemanfaatan sumberdaya sekarang untuk kepentingan generasi sekarang dan mendatang.

Dua komponen lainnya, masyarakat dan lingkungan, menegaskan bahwa ekonomi berbagi—baik itu mewujud dalam produksi, distribusi, maupun konsumsi—bekerja dalam harmoni dan sinergi dengan alam. Ekonomi berbagi dimaksudkan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dalam batas-batas, dan untuk memulihkan, daya dukung lingkungan.

Oleh karenanya, ketika kita periksa dengan saksama contoh-contoh dari ide ekonomi berbagi yang terbaik—misalnya yang disusun oleh Jan Lee dari Triple Pundit di akhir 2013—maka yang muncul adalah crowdfunding untuk membiayai beragam bisnis sosial yang memecahkan permasalahan untuk kelompok-kelompok rentan dalam masyarakat; berbagi sumber belajar secara gratis atau sangat murah seperti yang dilakukan oleh para profesor yang membuat EdX; berbagi kendaraan seperti penyewaan sepeda sangat murah di kota-kota besar, serta carpooling yang memanfaatkan kursi-kursi kosong di kendaraan pribadi; patungan untuk pemasangan panel surya di antara masyarakat yang ingin terbebas dari listrik yang diproduksi dari bahan bakar fosil; pengelolaan makanan serta bahannya yang tak terkonsumsi dari restoran untuk menolong masyarakat miskin; dan contoh-contoh serupa lainnya.

Ide ekonomi berbagi sendiri tidaklah baru. Sejak lama orang-orang memiliki kecenderungan berbagi dengan mereka yang dekat, seperti keluarga dan kerabat. Hanya saja, dua hal besar membuat ekonomi berbagi menjadi kembali mengemuka dan tersebar secara massif. Pertama, karena kesadaran bahwa moda pembangunan selama ini telah membawa konsekuensi buruk bagi masyarakat dan lingkungan, sehingga ide keberlanjutan menjadi semakin kuat didukung.
Kedua, karena perkembangan teknologi informasi memungkinkan berbagi sumberdaya dengan jauh lebih banyak orang, termasuk orang-orang baru yang memiliki perhatian yang serupa.

Ekonomi Akses dan Permasalahannya
Pertanyaannya kemudian, apakah bentuk-bentuk bisnis yang sekarang dianggap sebagai contoh paling populer dari ekonomi berbagi seperti Uber dan Airbnb bisa dianggap benar-benar sebagai bagian dari ekonomi berbagi dalam pengertian itu? Tampaknya tidak.
Kalau Uber, misalnya, menggunakan mobil-mobil yang menganggur dan utamanya dimanfaatkan untuk memberikan pendapatan untuk para penganggur atau untuk kepentingan mengangkut makanan bagi kaum miskin, maka itu akan jadi bagian dari ekonomi berbagi.
Kalau Airbnb memanfaatkan kamar-kamar yang kosong untuk kepentingan memberikan tempat perlindungan bagi mereka yang kesulitan membayar biaya sewa, itu adalah perwujudan ekonomi berbagi. Namun, yang terjadi tidaklah demikian.
Mengutip contoh-contoh yang kini paling mengemuka, Giana Eckhardt dan Fleura Bardhi menyatakan bahwa mereka itu bukanlah bagian dari ekonomi berbagi, melainkan lebih tepat disebut access economy atau ekonomi akses. Kedua profesor ekonomi dari Inggris itu menyatakan dengan tegas bahwa ekonomi berbagi adalah tentang bagaimana anggota masyarakat yang biasanya sudah saling mengenal—atau diperkenalkan oleh teknologi informasi—berbagi sumberdaya tanpa motif keuntungan, walau transaksi finansial tak haram sepenuhnya.

Ketika ada perusahaan menjadi perantara orang-orang yang tak saling mengenal untuk memanfaatkan sumberdaya pada kurun waktu tertentu dengan motif ekonomi utilitarian, bukan keberlanjutan, tak tepat lagi disebut sebagai ekonomi berbagi.

Demikian yang mereka nyatakan dalam artikel The Sharing Economy isn’t about Sharing at All di “Harvard Business Review” edisi Januari 2015.
Lebih jauh dari itu, penulis teknologi Tom Slee dalam buku What’s Yours is Mine: Against Sharing Economy (2016) mengingatkan kita semua terhadap penyelewengan makna ekonomi berbagi yang kini tampak diterima tanpa kritisisme sama sekali. Siapa yang tak senang dengan semakin murah dan mudahnya kita mengakses berbagai jenis jasa lewat perantaraan teknologi informasi? Tapi, murah tidak selalu baik bagi keberlanjutan.

Buat Slee, ada hal-hal yang sangat mengkhawatirkan, yang ia sebut sebagai dirty laundry dari perusahaan-perusahaan terkemuka yang memanfaatkan popularitas salah kaprah dari istilah ekonomi berbagi itu. Kalau lima tahun lalu Rachel Botsman dan Ross Roger menulis What’s Mine is Yours: How Collaborative Consumption is Changing the Way We Live yang merupakan manifesto ekonomi berbagi—terutama konsumsi kolaboratif—yang sesungguhnya, buku yang ditulis Slee memberikan peringatan keras akan beragam hal yang sesungguhnya bisa merugikan masyarakat luas, walau sekarang tampak menguntungkan.
Pada Januari 2014, dua peneliti dari Universitas Harvard, Benjamin Edelman dan Michael Luca, menemukan bahwa telah terjadi diskriminasi rasial pada Airbnb. Bila seharusnya aplikasi online bisa mengurangi beragam hal negatif, tetapi terdapat konsekuensi yang tak terpikirkan sebelumnya.

Dalam artikel Digital Discrimation: The Case of Airbnb.com, keduanya membuktikan bahwa induk semang yang namanya menyiratkan ras kulit putih bisa meminta pembayaran 12% lebih tinggi untuk kualitas pondokan yang sama. Di awal 2016, studi mereka—dan satu peneliti lagi, Dan Svirsky—membuktikan bahwa mereka yang memiliki nama ras kulit hitam memiliki kemungkinan penolakan 16% lebih besar dibandingkan yang namanya menyiratkan ras kulit putih.

Artikel Peeking Beneath the Hood of Uber yang dituliskan oleh para peneliti dari Universitas Northwestern—Le Chen, Alan Mislove, dan Christo Wilson—menemukan bahwa surge pricing yang dikenakan oleh Uber tidaklah setransparan yang banyak dipersepsi orang. Karena masalah transparansi itu dan beragam masalah lainnya, bisnis-bisnis dalam ekonomi akses ini kemudian menimbulkan beragam pertanyaan legal seputar asuransi, pajak, ketenagakerjaan, dan hak-hak masyarakat.
Demikian yang ditunjukkan secara komprehensif oleh Vanessa Katz dalam Regulating the Sharing Economy yang dipublikasikan di Berkeley Technology Law Journal, Vol. 30/5 2015.

Profit Versus Keberlanjutan
Perusahaan-perusahaan macam Uber dan Airbnb jelas menggunakan algoritma dan big data untuk kepentingan bisnisnya. Tentu bukan untuk kepentingan seperti yang diidealkan oleh para penggagas ekonomi berbagi di awalnya. Mereka memanfaatkannya untuk kepentingan perusahaan, yang secara terbuka menyatakan tujuan maksimisasi profit.
Sebagai bagian dari tujuan tersebut, mereka juga memanfaatkannya untuk kepentingan kehumasan mereka, terutama sebagai cara untuk menghadapi usulan-usulan regulasi terhadap model bisnis mereka. Pesan yang mereka terus gemborkan adalah, “We don’t need your old rules any more, companies say: our information can deliver new levels of efficiency, convenience, and safety.” (Slee, 2016)
Masalahnya, data yang mereka kuasai itu sangat sulit diakses oleh pihak lain. Dan, sebagai senjata kehumasan, yang banyak dikeluarkan adalah data yang paling menguntungkan kepentingan bisnis mereka. Sifat selektif itu, misalnya, ditunjukkan Slee pada kasus Uber yang menyatakan bahwa pengemudinya bisa mendapatkan pendapatan hingga US$90,000 per tahun.

Jurnalisme investigatif atas angka yang mencengangkan itu menemukan bahwa angka itu diperoleh oleh pengemudi Uber di tempat tersibuk di New York yang bekerja lebih dari 40 jam seminggu, sebelum dikurangi dengan seluruh pengeluaran seperti asuransi, bahan bakar serta perawatan kendaraan. Hal yang sama juga terjadi pada angka-angka yang dipublikasikan oleh Airbnb.

Uber kini memiliki nilai pasar US$65 miliar, sementara Airbnb nilainya US$25 miliar. Pasokan kapital dalam jumlah raksasa terus mereka terima. Dari kebutuhan dana operasional Uber di tahun 2015 sebesar US$6,5 miliar tahun lalu, hampir US$5 miliar berasal dari suntikan investor.

Adapun untuk Airbnb di tahun yang sama, dari anggaran US$2 miliar, US$1,6 miliar di antaranya juga merupakan suntikan modal baru. Tentu, para pemodal itu berharap agar IPO yang akan dilakukan—yang hingga kini terus ditunda hingga kondisi optimal bisa muncul—bisa sukses besar, dan memberikan keuntungan yang luar biasa bagi mereka.

Yang penting untuk diingat oleh kita semua adalah bahwa mereka yang menuliskan kritik, atau setidaknya meminta kita untuk berhati-hati terhadap perkembangan ekonomi akses ini bukanlah para luddite modern yang ingin membawa kita kepada kemunduran. Tom Slee adalah seorang pakar teknologi yang berpihak kepada kemajuan, namun ia jelas mengkhawatirkan ekses yang timbul dari bisnis berbasis teknologi informasi yang tak diregulasi dengan benar. Vanessa Katz adalah seorang pakar hukum teknologi yang ingin memastikan bahwa teknologi benar-benar membawa manfaat untuk masyarakat luas.
Uber, Airbnb, dan beragam perusahaan sejenis tentu saja sah menjalankan model bisnisnya sepanjang tak ada regulasi yang mereka langgar, dan tidak melawan regulasi yang hendak dibuat untuk memastikan maslahat bagi masyarakat. Motivasi maksimisasi profit juga masih dipandang etis bila tidak dicapai dengan membawa efek destruktif untuk ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Namun, bila kita hendak bersetia dengan pengertian ekonomi berbagi, tampak jelas bahwa mereka bukanlah bagian dari ekonomi berbagi yang sesungguhnya. Sementara, kebutuhan untuk mempercepat masuknya masyarakat ke dalam keberlanjutan sesungguhnya membutuhkan berbagai inisiatif yang benar-benar disandarkan pada ekonomi berbagi. Dan ini butuh kerja jauh lebih keras dibandingkan sekadar menikmati dan merayakan ekonomi akses tanpa kritisisme. (Sumber : Jalal, Geotimes.co.id)

Minggu, 10 Juli 2016

Sistem Bisnis Masa Kini (bag.2)

Saat ini teknologi di bidang informasi berkembang dengan pesat. Dimana manusia satu sama lain saling berinteraksi via online melalui jejaring di dunia maya yang saat ini difasilitasi melalui internet. Sebut saja situs-situs yang menyediakan media sosial yang banyak digandrungi oleh kaum muda sekarang. Paradigma atau cara pandang dalam masyarakat pasti akan berubah mengikuti perkembangan jaman. Dimana semuanya aktivitas difasilitasi secara online.

Perkembangan teknologi informasi membuat perusahaan menciptakan inovasi di bidang penjualan dimana perusahaan tidak hanya berbisnis secara konvensial dimana harus ada manusia dan barang secara fisik. Karena semua sudah bisa dilakukan secara digital online.

Semua informasi perdagangan sudah bisa diakses secara online baik arus pergerakan mata uang, dan komoditas baik barang maupun jasa. Sehingga informasi dapat diketahui saat itu juga atau bersifat real time. Sehingga apapun berita-berita yang berhubungan secara lokal maupun global bisa mempengaruhi sentimen para pelaku pasar dalam perdagangan. 
Apa yang terjadi di belahan dunia lain akan berpengaruh pada aktivitas perdagangan di dalam negeri. Kita ambil contoh misalnya seperti resesi global yang dimulai saat Yunani mengalami krisis keuangan akibat tidak mampu membayar utang kepada Uni Eropa maka sangat berpengaruh pada aktivitas perdagangan secara global. Di sisi lain ketika Amerika Serikat melalui Bank Sentralnya menaikkan suku bunga uangnya maka hal ini sangat berpengaruh pada arus perdagangan domestik. Mata uang rupiah yang saat ini sangat tergantung dengan mata uang dolar sebagai transaksi utama akhirnya membumbung tinggi. Hal ini membuat perdagangan dalam negeri menjadi terpengaruh karena harga barang dan jasa semakin mahal di pasaran. Karena semua harga komoditas impor selalu dihitung dengan US Dollar.

Bagi para pelaku bisnis dalam negeri yang masih menerapkan sistem konvensional, akan mengalami keguncangan akibat semua harga barang konsumsi terutama impor menjadi naik sehingga daya beli masyarakat menjadi menurun. Banyak pabrik yang tutup akibat tidak mampu beroperasi lagi akibat biaya produksinya membumbung tinggi sehingga banyak yang mengalami defisit keuangan.

Lalu bagaimana cara agar sistem bisnis konvensional tetap bertahan ditengah ketidakpastian ekonomi global?  Semua informasi baik lokal maupun global sangat mempengaruhi para pelaku pasar baik domestik maupun asing. Para investor yang menginginkan kestabilan ekonomi bisa memindahkan dananya di tempat yang lebih aman dimana saja karena informasi selalu datang setiap saat.

Sistem Bisnis Masa Kini



Selamat pagi... apa kabar para pembaca yang budiman.. di forum yang baru ini saya ingin berbagi informasi dengan anda semua mengenai bisnis apa yang sebenarnya paling monumental untuk saat ini...

Sebelum berbicara tentang bisnis.. saya akan membahas tentang fenomena pekerjaan yang ada di masyarakat Indonesia dahulu sampai sekarang. Di Indonesia sendiri, struktur ekonomi sebenarnya terbagi menjadi dua yaitu di sektor formal dan informal. sebagian besar penduduk di Indonesia lebih banyak tinggal di daerah pedesaan dmana sektor pekerjaan yang dominan adalah bertani. Namun karena adanya modernisasi yang diterapkan oleh pemerintah, muncullah sektor-sektor pekerjaan lain yang tidak terbatas pada sektor pertanian saja. Diantara pekerjaan yang paling menyerap tenaga kerja justru banyak datang di daerah kota-kota besar saja yang sudah maju dan serba metropolian.sebut saja kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar dan kota-kota lainnya. di pedesaan sendiri, lahan pertanian yang ada semakin lama semakin terbatas untuk menyerap tenaga kerja yang semakin meningkat sehingga banyak penduduk yang akhirnya mencari pekeraan di kota-kota besar karena disana banyak menyediakan berbagai macam fasilitas dan lapangan kerja yang bervariasi. di satu sisi banyak orang yang bekerja di perkotaan namun disisi lain daya tampung perkotaan untuk menyerap tenaga kerja juga terbatas. 

Tenaga kerja dari desa dan kota banyak bekerja di sektor-sektor formal yaitu lapangan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah seperti pegawai negeri dan dan karyawan swasta. Mereka bekerja di instansi-instansi dan dinas-dinas kantor pemerintah dan bekerja di kantor-kantor swasta. Pekerjaan di sektor formal sangat membutuhkan para tenaga ahli dan profesional dibidangnya. Selain itu untuk masuk di sektor formal sangat membutuhkan persyaratan dan kualifikasi para tenaga kerja yang akan melamar di perusahaan tersebut diantaranya seperti tingkat pendidikan, keahlian, bakat dan pengalaman kerja. Tidak semua orang bisa masuk di sektor formal karena dibutuhkan persyaratan dan tes bagi para pelamar kerja. Sektor formal adalah dunia kerja yang penuh dengan persaingan yang tajam karena jumlah lapangan kerja di sektor formal lebih sedikit daripada permintaan tenaga kerja yang banyak datang di berbagai daerah-daerah di pedesaan. 

Akibat dari ketatnya persaingan di sektor pekerjaan formal, maka banyak tenaga kerja yang tidak terserap di sektor formal sehingga muncullah fenomena munculnya pengangguran bagi tenaga kerja terdidik yang sudah mengenyam pendidikan dan lulusan akademisi. Lalu bagaimana nasib para kaum urban yang ingin mengais rejeki di perkotaan namun tidak mengenyam pendidikan formal? Bagi para kaum urban yang datang jauh-jauh dari daerah pedesaan atau kota-kota kecil, mau tidak mau mereka membuka usaha kecil-kecilan seperti pedagang kaki-lima yang mangkal di pingir jalan, atau di sektor-sektor jasa lain seperti tukang parkir, kuli bangunan maupun pasar tradisional. 

Ini adalah FAKTA yang ada di Indonesia saat ini. Sistem pekerjaan yang masih konvensional dimana harus ada permintaan dan penawaran ternyata tidak mampu menampung semua tenaga kerja yang sudah disediakan oleh sektor formal. Belum lagi di sektor formal sendiri terutama di sektor swasta juga sering mengalami pasang surut akibat persaingan yang ketat dan iklim usaha yang seringkali dipengaruhi oleh kondisi ekonomi masyarakat. Begitu juga di sektor informal yang sebenarnya lebih banyak didominasi oleh kaum urban ternyata sering menimbulkan permasalahan di kota besar seperti makin banyaknya kampung-kampung kumuh yang menampung kaum pendatang. 

Lalu bagaimana sistem bisnis yang cocok untuk saat ini dimana kita tidak perlu direpotkan oleh adanya persaingan? perlu diingat bahwa bisnis membutuhkan pasar. Dan pasar adalah tempat berlangsungnya transaksi antara permintaan dan penawaran. Kalau pasar sedang mengalami lesu lalu bisnis juga akan mengalami penurunan. Itulah sistem berbisnis yang konvensional dimana harus ada pasar tempat bertemunya penjual dan pembeli. 

Saya akan melanjutkan di edisi berikutnya.....