Halaman

Selasa, 20 Februari 2018

Revolusi Industri 4.0 Bawa Perubahan Besar, 12,5 persen pekerjaan Hilang


Akhir-akhir ini, perekonomian Indonesia dihebohkan dengan sistem bisnis online, baik dalam bidang transportasi, retail, perhotelan dll. Sistem online tidak terlepas dari perkembangan sistem digital, yang teknologi dasarnya sudah ditemukan sejak tahun 1970 an. Maraknya sistem digital dalam bisnis ini, memberi pengaruh yang sangat dahsyat dalam perekonomian, bahkan banyak kalangan menyebutkan  bahwa sistem digital telah menimbulkan revolusi  industri generasi ke 4.

Perkembangan sangat pesat di bidang teknologi informasi telah mendorong terjadinya revolusi industri keempat ( industrial revolution 4.0 ). Kondisi ini menjadikan masa depan serba tidak menentu (unpredictable future) dan pekerjaan-pekerjaan yang dulunya mapan bisa usang seketika.
Revolusi Industri 4.0 yang mengoptimalkan digitalisasi, komputerisasi dan data analisis membawa dampak hilangnya 12,5 persen pekerjaan di Indonesia karena digantikan mesin (otomasi). Sektor pertanian yang paling besar terkena dampak dari inovasi distruptif ini, karena pekerjaan yang dulunya dioperasikan manusia kini diambil alih mesin.

Inovasi distruptif telah mengubah cara-cara lama manusia dalam beraktivitas, tidak lagi dilakukan secara fisik tapi berganti virtual. Perusahaan-perusahaan besar juga mengalami pergeseran, bukan lagi perusahaan minyak seperti Exxon Mobil tapi berganti perusahaan yang punya basis data besar (Big Data) seperti Facebook, Alibaba, Microsoft. Sekarang yang paling berpengaruh bukan lagi minyak (oil) tapi data.

Revolusi Industri 4.0 ini juga menggeser pemahaman tentang definisi kepemilikan modal (kapital), yang tidak lagi ditentukan dari seberapa besar aset fisik yang dimiliki, namun ditentukan dari value perusahaan tersebut. Contohnya perusahaan Gojek yang tidak memiliki aset motor tapi valuasinya sangat besar. Tahun 2016, valuasi Gojek senilai Rp 17 Trilyun, lebih besar dari Garuda Indonesia dan Blue Bird. Kini di tahun 2018 valuasi gojek sudah mencapai Rp. 40 Trilyun. Saat ini aset yang paling bernilai adalah big data dan pekerjaan yang paling mahal adalah data analisis.
Sumber referensi : SH Kedaulatan Rakyat  ( 21 Februari 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar