Mengkaji dan menguak fakta tentang berita dan fenomena bisnis melalui perkembangan teknologi mutakhir masa kini
Halaman
▼
Jumat, 15 Juli 2016
Pokemon Go : Teknologi AR dan Realita Bisnis Masa Kini
Pokemon Go yang sedang marak baru-baru ini adalah game aplikasi berbasis teknologi AR. Apakah teknologi AR itu? AR (augmented reality), adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan ataupun tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata. Tidak seperti realitas maya yang sepenuhnya menggantikan kenyataan, realitas tertambah sekadar menambahkan atau melengkapi kenyataan.
Benda-benda maya menampilkan informasi yang tidak dapat diterima oleh pengguna dengan inderanya sendiri. Hal ini membuat realitas tertambah sesuai sebagai alat untuk membantu persepsi dan interaksi penggunanya dengan dunia nyata. Informasi yang ditampilkan oleh benda maya membantu pengguna melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam dunia nyata.
Realitas tertambah dapat diaplikasikan untuk semua indera, termasuk pendengaran, sentuhan, dan penciuman. Selain digunakan dalam bidang-bidang seperti kesehatan, militer, industri manufaktur, realitas tertambah juga telah diaplikasikan dalam perangkat-perangkat yang digunakan orang banyak, seperti pada telepon genggam.
Dengan meledak besar-besarannya Pokemon GO dalam waktu kurang dari seminggu ini, teknologi 'virtual reality' yang booming akhir tahun lalu, nampaknya akan mulai tenggelam. Sepertinya masyarakat lebih suka untuk pergi keluar dan terhubung ke dunia digital lewat kamera smartphone miliknya, ketimbang memakai headphone besar di wajahnya. Ini pertanda bahwa masa depan game adalah AR, bukan VR.
Permasalahan dalam VR adalah yang ditawarkan hanyalah modifikasi visual dari game tersebut. Kita memang bisa masuk dalam game dan menikmati keseluruhan visual yang sangat luas, namun hal ini tak jauh berbeda dari apa yang kita dapat sebelumnya di game konsol. Baik Gamepad serta sensor gerakan yang jadi bagian dari VR, kesemuanya hampir tak mengubah sesuatu yang sudah ada secara integral.
Di sisi lain, Augmented Reality atau AR, secara murni memberi pendekatan untuk bagaimana seseorang bisa berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Pokemon GO sendiri 'menaiki' arus AR yang sudah tercipta serta memanfaatkan kekuatan karakter Pokemon yang sudah dikenal masyarakat sejak belasan tahun silam.
Hasilnya? Kesuksesan besar-besaran. Bahkan Nintendo meraup keuntungan besar, dengan nilai market yang bertambah sebesar USD 7,5 Juta.
Meski banyak dampak dan isu yang terjadi di aspek teknis maupun fungsionalnya, teknologi Augmented Reality dalam ranah game tentu adalah aspek yang sangat menjanjikan.
Hal ini akan mempengaruhi banyak aspek di dunia teknologi. generasi selanjutnya dari smartphone akan lebih kompatibel dengan AR, bahkan akan membuat sebuah aksesoris berupa perangkat 'wearable' AR, khusus untuk berbagai aplikasi yang didukung oleh AR. Aplikasi non-game pun juga akan mempermudah hidup kita dengan dikembangkannya berbagai teknologi digital berbasis AR.
Saat ini patut diakui bahwa teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) masih digunakan untuk sekadar menonton video ataupun bermain game. Padahal teknologi tersebut dapat pula digunakan untuk mendukung pertumbuhan e-Commerce. teknologi VR dan AR dapat mengubah cara bertransaksi di masa depan. Teknologi AR dan VR memungkinkan konsumen seolah-olah menyentuh dan merasakan produk yang diinginkan tanpa perlu pergi langsung ke toko tersebut.
Penggunaan teknologi ini akan berpengaruh terhadap pertumbuhan transaksi melalui penjualan digital. Ini tidak terlepas dari pengalaman bertransaksi yang tak ubahnya dilakukan secara langsung, tapi tanpa kehadiran fisik. Teknologi ini mampu mereplikasi konsumen untuk seolah-olah berada di dalam toko. Jadi, konsumen masih dapat merasakan pengalaman berbelanja secara tradisional. Namun kendati pertumbuhan transaksi digital akan makin bertumbuh dengan kehadiran teknologi VR atau AR, bisnis online tidak akan mampu menggantikan transaksi tradisional. Transaksi tradisional tidak tergantikan, tapi pada tahun 2020 konsumen di Asia akan makin banyak yang melakukan pembelian secara online untuk memenuhi kebutuhannya,
Sekadar informasi, teknologi VR dan AR memang digadang-gadang sebagai teknologi konsumen untuk masa depan. Karena itu, saat ini telah banyak perusahaan teknologi yang mulai mengembangkan kedua teknologi tersebut dan mengikutsertakannya dalam rencana jangka panjang.
Beberapa perusahaan yang sudah mulai mengembangkan perangkat VR ataupun AR adalah Facebook dengan Oculus Rift, Microsoft dengan HoloLens, HTC dengan Vive, dan Samsung dengan Samsung Gear VR. Bahkan, beberapa perusahaan seperti Apple dan Google pun sudah mulai memiliki divisi khusus untuk VR.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar